Kesalahan Krusial Menyusun Sustainability Report

Kesalahan Krusial Menyusun Sustainability Report

Perusahaan seringkali melakukan kesalahan krusial yang dapat menghambat tingkat akurasi dan transparansi dalam menyusun sustainability report.

Kesalahpamannya terletak pada anggapan bahwa CSR dan ESG adalah sama. ESG dan CSR adalah dua aspek yang berbeda, namun banyak kita dapati laporan keberlanjutan perusahaan di dominasi konten CSR. Jika kita pahami, CSR merupakan salah satu bentuk upaya perusahaan dalam melakukan pemberdayaan masyarakat yang berkaitan dengan proses bisnis mereka, baik secara langsung atau pun tidak.

Banyak ditemui bahwa aktivitas CSR merupakan kegiatan yang bersifat filantropi, tanpa tujuan untuk menurunkan risiko aktivitas perusahaan. Sehingga dalam hal ini CSR hanya mencakup sebagian kecil saja dari pilar sosial dalam lingkup ESG.

Sedangkan, ESG dibangun dari proses identifikasi risiko bisnis yang mencakup tanggung jawab perusahaan dalam 3 aspek baik lingkungan, sosial, dan tata kelola. Menerapkan ESG secara utuh dapat mendorong integrasi aspek keberlanjutan dengan operasional bisnis utama perusahaan untuk mencapai kinerja yang berkelanjutan.

Dengan mengintegrasikan inisiatif lingkungan, sosial, dan tata kelola secara seimbang, dapat memberikan sinyal kepada investor dan stakeholders lainnya bahwa perusahaan kita menyikapi isu keberlanjutan dengan tepat.

Jadi, CSR hanya sebagian kecil dari aktivitas ESG. 

Perusahaan hendaknya memisahkan ESG dari Proses Business Normal Perusahaan. Banyak perusahaan masih belum menyadari bahwa prinsip ESG bukanlah cara pandang yang terpisah dari proses bisnis normal.

Namun, ESG merupakan bagian terintegrasi dari proses bisnis perusahaan. Perspektif pemisahan ini seringkali menyebabkan pressure ketika perusahaan dituntut untuk menerapkan prinsip ESG. Padahal sebagian permasalahan tersebut menunjukkan bahwa ketika perusahaan mengintegrasikan prinsip ESG ke dalam proses bisnisnya, hal ini dapat membantu perusahaan untuk lebih efisien dan dapat menghemat biaya yang signifikan.

Sebagai contoh, penggunaan panel surya tidak hanya merupakan tanggungjawab lingkungan, namun juga membantu perusahaan mengurangi biaya energi dalam jangka panjang. Hal ini menunjukkan perusahaan dapat mengelola resiko dengan baik, serta memperkuat citra perusahaan sebagai perusahaan yang bertanggungjawab.

Contoh lain, penerapan budaya hemat air dan membatasi penggunaan pendingin ruangan tentu merupakan inisiatif yang dapat menurunkan biaya. Menerapkan prinsip ESG dengan bijak dapat membantu perusahaan dalam membuka peluang perusahaan untuk mencari investor dan membangun reputasi perusahaan yang baik serta meningkatkan daya saing perusahaan.

Dengan menerapkan prinsip keberlanjutan yang strategis, perusahaan akan mendapatkan nilai jangka panjang dan memastikan keberlanjutan bisnisnya. 

Salah satu tantangan utama yang dihadapi perusahaan dalam pembuatan laporan keberlanjutan terletak pada ketidak-sesuaian informasi dalam laporan keberlanjutan dengan risiko bisnis yang sebenarnya. Ini sering terjadi karena perusahaan belum sepenuhnya memetakan risiko bisnis yang relevan dengan industrinya dalam laporan keberlanjutan.

Seringkali ditemukan dalam laporan keberlanjutan perusahaan terbuka di Indonesia yang memiliki materiality matriks yang kurang penyajiannya dalam laporan keberlanjutan, Inipun belum berbicara tentang kualitas materiality matriks yang dibuat.

Masing-masing industri memiliki risiko ESG yang berbeda. Sebagai contoh sederhana, bank bisa fokus pada isu tata kelola seperti customer privacy dan data security serta kebijakan dalam menunjang pembiayaan berkelanjutan.

Sedangkan bagi perusahaan pertambangan, bisa memberikan perhatian lebih pada isu lingkungan seperti pengelolaan limbah dan pengembalian fungsi lahan bekas tambang. Dalam memahami standar pelaporan keberlanjutan, mayoritas perusahaan di Indonesia masih fokus pada keseluruhan dari topik keberlanjutan.

Tidak banyak perusahaan yang memahami risiko spesifik industri dalam menyusun pelaporannya. Hal ini berpotensi melemahkan fungsi laporan keberlanjutan sebagai alat efektif untuk mengidentifikasi, mengelola risiko, dan mengkomunikasikan kebijakan keberlanjutan perusahaan.

Dalam merumuskan strategi ESG yang efektif dan efisien, penting bagi perusahaan untuk menunjukkan komitmen dengan membentuk unit khusus atau tim adhoc yang berdedikasi menyelaraskan aktivitas perusahaan dengan isu-isu ESG.

Tim adhoc bertanggungjawab tidak hanya untuk mengumpulkan dan menganalisa data terkait ESG, namun juga untuk memahami secara mendalam tentang apa yang dibutuhkan dari segi pelaporan dan bagaimana hal tersebut dapat diintegrasikan ke dalam operational business perusahaan secara menyeluruh.

Selain itu, Tim adhoc harus mampu menyusun framework dan roadmap yang tidak hanya mendukung pencapaian tujuan ESG. Tetapi juga harus selaras dengan visi dan misi perusahaan. Dalam laporan keberlanjutan perusahaan terbuka di Indonesia tidak banyak mengungkap atau  memiliki framework atau kerangka keberlanjutan.

Sementara lebih sedikit lagi laporan keberlanjutan perusahaan di Indonesia yang memiliki peta jalan atau roadmap keberlanjutan. Tanpa adanya sumber daya yang cukup dan pendekatan terstruktur, usaha-usaha ESG sering kali menjadi sporadis dan kurang strategis.

Yang pada akhirnya dapat menghambat kemampuan perusahaan dalam mencapai tujuan keberlanjutannya dan dari segi biaya sangat ineficient. Kesalahan lainnya dalam menyusun laporan keberlanjutan, perusahaan hanya fokus pada regulasi.

*Disadur dari penjelasan Iman Harymawan, SE., MBA., Ph.D. (Dosen Universitas Airlangga)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *